Pertemuan Romantis Kedua dan Perpisahan (Part 3)

Pertemuan Kedua dan Kunjungan Pertama Sara Ke New York

Cukup lama rasanya aku menunggu hingga akhirnya aku bisa berangkat ke bandara JFK untuk menjemput seorang wanita pujaan hatiku pada bulan Februari 1999. Kunjungan ini akan berbeda dari liburan pendek sebelumnya di negara beriklim tropis yang membuat aku berkeringat gila, Taiwan.

Cuaca kota New York dingin pada saat itu dan aku tidak punya waktu luang untuk liburan, jadi aku tetap bekerja selama tiga minggu saat Sara berkunjung. Tetapi kami tetap menggunakan waktu luang terbaik kami bersama-sama.

Suatu hari kami menunggangi kuda di Central Park, membayar seorang seniman jalanan untuk melukis Sara, kemudian menemani dia jalan-jalan disekitar kota untuk melihat salju yang turun untuk pertama kali dalam hidupnya.

Di hari lain kami pergi ke Museum Sejarah dan menonton pertunjukan di sana.

Kadang-kadang kami hanya meringkuk di rumah, sisanya jalan-jalan keluar. Dia memasak untukku, mengusap kakiku yang lelah, dan membersihkan rumahku. Aku merasa aku adalah pria paling beruntung di dunia. Aku tidak meminta sesuatu (tidak pakai 'banget' ya...) yang seperti itu.

Sara hanya bertemu dengan salah satu anggota keluargaku selama tinggal di New York karena aku tidak punya banyak keluarga di sini.

Meskipun marga Havilands berasal dari New York tapi di sini aku hanya punya sepupu jauh. Sang kakek (ayah ibu saya) memiliki kondominium di Connecticut.

Putranya, Paman John, punya rumah tidak jauh dari tempat tinggal kami, jadi Sara dan aku mengunjungi Kakek pada hari Sabtu di kondominium itu. Kakek membawa kami makan malam bersama Ginny, teman tetangga kakek.

Pada hari minggu Sara dan aku bertemu Kakek di kantornya di CBS dan pergi ke sebuah restoran yang menyajikan makanan lezat. Saat kami berjalan di sepanjang trotoar menuju restoran, Kakek mengatakan sesuatu yang membuat Sara senang.

Aku jadi teringat kembali akan diskusi kami saat dalam perjalanan ke Selatan Taiwan. Pada malam kami jalan-jalan di Taiwan, Sara mengatakan bahwa pria harus selalu berjalan di sisi yang yang dekat dengan kendaraan dan wanita berjalan di sisi yang mengarah ke bangunan.

Tujuannya untuk melindungi dia dari kendaraan. Aku belum pernah mendengar tradisi seperti ini sebelumnya, dan aku mulai menggodanya dengan menunjukkan pasangan lain yang tidak menaati aturan tersebut.

Tapi hari ini, Kakek secara kebetulan mengatakan, "Chris, kamu harus berjalan di sisi yang ada kendaraan sedangkan Sara di sisi bangunan." Sara tersenyum dan berkata, "Udah aku bilang kan!". Kakek memang selalu fasih kalau bicara soal formalitas.

chris and sara

Pada Hari Valentine kami akan bertemu dengan Kakek dan Paman John dan istrinya untuk makan malam, tapi tidak berhasil karena suatu hal, Sara dan aku tidak bisa keluar pada hari itu.

Hubungan antara aku dan Sara semakin melaju ke tingkat yang lebih serius selama kunjungan ini, seolah-olah kami pasangan yang sudah menikah secara tradisional. Sementara aku pergi bekerja, ia merawat rumah, dan kami bersama terutama di malam hari membicarakan seputar hari-hari kami berdua.

Aku agak khawatir mengijinkan Sara mengendarai mobilku. Tapi dia baik-baik saja, dia pergi ke mal dan pasar berkali-kali sendirian.

Seperti saat aku di Taiwan, ada budaya yang harus dia pelajari di Amerika. Suatu hari aku melihat dua roti English Muffin raksasa diolah gaya baru, dan aku bilang ke dia, "Wow sayang, kamu makan empat English Muffin!?" Dia menjawab, "Ngak tuh, cuma dua, aku buat sandwich nih". "Maksudmu, kamu buat dua sandwich?", tanyaku. "Tidak," katanya, "hanya satu sandwich."

Kemudian aku sadar apa yang dia lakukan. "Sayang, kamu tahu dengan roti English Muffin, kamu harus memisahkan bagian tengahnya dulu?". "Oh, aku tidak tahu itu!" katanya dengan takjub.

Aku menatap Sara yang dengan lucu makan dua roti English Muffin raksasa dengan dengan irisan daging dan selada. Aku hanya ingin menutupi dirinya dengan ciuman.

Mendekati hari terakhir kunjungannya ke New York, Sara dan aku berjalan kaki untuk melihat Chinatown. Di tengah jalan dia terperosok ke dalam lubang dan kakinya terluka parah.

Aku mengambil cuti hari berikutnya dan menemani dia ke dokter untuk diperiksa. Untungnya lukanya tidak terlalu parah tapi dia tetap harus menggunakan tongkat karena kakinya terasa sakit saat digerakkan.

Dia tidak pernah memakai tongkat orang cacat seperti ini karena di Taiwan mereka tidak menggunakan tongkat kecuali tulang patah. Ternyata, bagian tengah kaki Sara mengalami keseleo yang cukup parah.

Pokoknya, sayangku yang malang ini menghabiskan sisa waktunya di New York dengan berjalan tertatih-tatih sambil ditopang oleh tongkat yang berat itu. Tapi yang paling penting adalah kami menghabiskan begitu banyak waktu saling mencintai.

Sekali lagi kami harus mengucapkan selamat tinggal. Ini menyakitkan. Kami menunggu di bandara selama lebih dari satu jam karena kami datang lebih awal, dan menghabiskan lebih banyak waktu duduk sambil berpegangan tangan, diam, dan merenung.

Apa yang telah kami lakukan? Kami adalah sepasang kekasih sekarang! Tapi bagaimana kami melanjutkan hubungan ini?

Setelah dia pergi, dia menelepon aku dari bandara di Alaska di mana ia singgah sebelum terbang ke Taipei. Aku tidak di rumah, jadi ia meninggalkan pesan elektronik. Kami saling merindukan satu sama lain. Karena tidak bisa menghubungi aku melalui telepon, dia mengirim sebuah kartu pos dari Alaska yang tiba beberapa minggu kemudian, hanya untuk mengatakan, "Aku merindukanmu."

Sekembalinya Sara ke Taiwan, kami melanjutkan hubungan ini melalui Instant Messenger dan mulai membahas seputar masa depan kami.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku yakin dengan masa depan yang romantis ini.

Setelah kunjungan Sara pada Februari 1999, aku ingin menjadikan dia sebagai seorang istri. Perlahan-lahan, kami mulai membahas skenario "bagaimana jika" di internet. Bagaimana jika kami menikah, kami akan punya anak berapa? Akan diberi nama apa anak-anak kami? Seperti apa rumah yang kami inginkan? Di mana kami akan tinggal?, dll. Selama periode 5 bulan, fantasi ini berkembang menjadi diskusi yang lebih serius tentang pernikahan. Aku mulai berpikir tentang bagaimana dan dimana untuk mengajaknya menikah. Tentu saja, ini tidak akan terjadi melalui internet.

Apa yang kami rencanakan mulai terlihat di tahun depan. (Baca juga: Part 1, Part 2)

Bersambung... ke Part 4.

7 Comments On :

Pertemuan Romantis Kedua dan Perpisahan (Part 3)

@ Thursday, December 22, 2011

Labels: ,
Owner Owner said...

Test: Hanya ingin melihat bagaimana penampakan font di kolom komentar.

December 22, 2011 at 4:29 AM
Majalah Masjid Kita Majalah Masjid Kita said...

sekedar blogwalking mas.. salam kenal :) blognya luar biasa!!!

January 26, 2012 at 3:28 PM
langitselalubiru langitselalubiru said...

ceritanya bagus mas..good job..ditunggu part 4 nya :)

February 5, 2012 at 2:54 PM
seli_yoshio seli_yoshio said...

part 4 nya dong om... T_T

February 7, 2012 at 7:56 PM
modern classic furniture modern classic furniture said...

indah kisah cintanya...makasih udah dishare ceritanya disini yaa

July 14, 2012 at 11:07 AM
modern classic furniture modern classic furniture said...

bagus tulisannya...salam kenal slalu dan sukses ya

October 11, 2012 at 1:29 PM
bayu bayu said...

waww keren postnya :D

November 7, 2012 at 9:27 AM
Here's A face Box To Share Your Thoughts