Petualangan dan Perpisahan Christ dan Sara Setelah Pertemuan Pertama

Ini adalah bagian kedua dari Kisah Cinta Christ dan Sara di Internet, anda bisa membaca bagian pertama dari kisah ini di Sini.

Chris dan Sara Bertemu Pertama Kali di Taiwan

Kami tiba di Feng Yuan dimana Sara memesan kamar hotel kemudian jalan-jalan keliling kota. Feng Yuan kota yang cukup ramai, toko-toko tetap buka sampai larut malam.

Orang-orang berkerumun di trotoar dan banyak vendor yang memanggang makanan sekitar jalan yang mana aku tidak bisa identifikasi satu per satu.

Sara dan Aku berpegangan tangan saat jalan-jalan. Ada sedikit masalah di sini, aku tidak bisa makan apapun di sini karena tidak terbiasa. Jadi dia membawa aku ke McDonald di mana kami memesan makanan kemudian membawanya kembali ke hotel.

Hari berikutnya adalah perjalanan panjang ke Taiwan Selatan dimana Sara yang mengemudi. Aku ingin membantunya tapi aku terlalu gugup dengan keberadaan skuter yang lalu-lalang di sepanjang jalan. Di kota ini, skuter adalah kendaraan komuter, dan mereka tidak mengikuti aturan berkendara bagi pengendara motor seperti di Amerika.

Mereka melaju dimana ada ruang untuk berkendara, mondar-mandir di kedua sisi jalan, di trotoar, di antara mobil-mobil, pokoknya mana-mana deh. Ibu-ibu menyetir kedua anak mereka yang berusia enam tahun ke sekolah dengan skuter dan tidak memakai helm. Aku takut akan menabrak mereka di setiap belokan.

Sara memesan kamar di sebuah hotel bernama The Swan yang menampilkan pemandangan pantai beserta perahu dayung dan angsa.

Kami tiba larut malam dan menghabiskan hari berikutnya menikmati keindahan pantai dan suasana alam Taiwan Selatan.

Hari-hari kami dihiasi dengan awan putih dan angin laut yang melintasi langit biru bersaing dengan birunya laut. Liburan yang sangat berkesan dan romantis. Cinta kita bersemi seperti bunga di bawah sinar matahari, dan semua turis lain bisa melihat betapa bahagianya kami bersama. Mereka iri, kayaknya.

Dia membelai rambutku dengan jarinya dan bernyanyi padaku dengan suara yang akan membuat malaikat menangis.

Kami mengunjungi arena permandian dan berjalan di sekitar batu. Formasi batuan yang datar baik digunakan untuk berjalan tanpa alas kaki dan percikan di sekitar kolam air laut itu dikumpulkan dalam sebuah cekungan.

Aku merasa seperti anak kecil yang mondar-mandir, sementara Sara berjalan di belakangku. "Wow, lihat ini Sara, pasti gunung berapi. Lihat lubang ini! Keren sekali, ayo ke sini sayang! Rasakan batu ini Sara! Lewat sini Sara, Ayo bermain air denganku Sara! Aduh... jadi basah nih... aku ambil gambar kamu ya sayang...!?"

Ya, aku terlalu senang sampai-sampai hilang kendali.

Dia tersenyum dan tertawa padaku melihat aku bertindak seperti salah satu murid di sekolahnya.

Sepanjang jalan aku menemukan sebuah batu putih dengan tepi yang tajam. Batu yang sempurna, sepertinya Tuhan meletakkan batu itu di sana untuk aku temukan. Aku menghampirinya dan menulis beberapa grafiti di permukaan batu datar itu untuk aku dan Sara.

Kami adalah pasangan yang sangat bahagia hari itu.

Selama kami berada di ujung Selatan pulau, aku yang mengemudi karena tidak banyak skuter di sana. Tidak ada masalah sampai kami kembali ke Feng Yuan. Sepanjang jalan, skuter dan sepeda motor kecil mulai muncul di sepanjang jalan kota. Agak membingungkan melihatnya. Kami memutuskan aku harus menepi dan membiarkan dia mengambil alih jalan. Aku melihat sebuah Toko di sebelah kiri dan ingin berhenti untuk membeli makanan ringan. Aku menepi dengan perlahan-lahan di ruas kanan jalan karena di sana ada tempat parkir.

Christ dan Sara di Taiwan

Sara tiba-tiba menjerit kaget. Aku melihat seorang pria tua tergeletak di tanah yang mencoba untuk menyalib dengan sepeda motornya.

Aku cepat-cepat menghentikan mobil dan melompat keluar untuk menghampiri pria yang tergeletak di tanah tertindih oleh sepeda motornya. Dia bangun sendiri dan tampaknya baik-baik saja, tapi ia bukan orang yang menyenangkan. Ia mengucapkan serangkaian kutukan dalam bahasa China yang tampaknya ditujukan kepadaku dan Sara. Aku bertanya apakah dia baik-baik saja tapi dia tidak tahu bahasa Inggris. Sara mendengarkan dia dan mereka bertukar beberapa kata sementar aku tidak tahu apa-apa. Kendaraannya terbentur di trotoar dan kaca spionnya rusak.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku tidak punya SIM di Taiwan, bahkan Lisensi mengemudi internasional pun tidak punya. Aku mulai khawatir polisi akan datang dan menyeret aku ke penjara untuk dikenakan hukuman cambuk atau sesuatu yang seperti itu.

Aku meminta maaf dalam bahasa Inggris atas semua yang telah terjadi. Sara berjalan ke mesin ATM di dekatnya dan menarik sejumlah uang Taiwan yang setara dengan $ 30 tunai lalu memberikannya kepada pria itu. Pengendara itu tampak puas dan pergi dengan gusar.

Ini bagian yang mudah. Bagian yang sulit adalah memeriksa pintu penumpang mobil kakak Sara, yang sekarang memerkan goresan panjang.

Setelah membeli makanan ringan, Sara mengambil alih kursi kemudi dan melaju dalam keheningan, kami sadar bahwa ini bukan dunia maya lagi tapi dunia nyata. Aku sangat malu dan meminta maaf. Dia mengatakan tidak apa-apa dan ini adalah masalahnya. Aku mengatakan jika ini adalah masalahnya maka akan jadi masalahku juga. Dia menjelaskan peringatan kakaknya untuk mengembalikan mobil dalam keadaan seperti saat dia meminjamnya. Aku bilang aku akan membayar ongkos servis secara tunai tapi menurut Sara bukan itu masalahnya. Kakaknya tidak akan membiarkan dia menggunakan mobil itu lagi.

"Bagaimana jika dia berpikir ini bukan salahmu? Bagaimana kalau kamu membuat cerita ada sepeda motor yang menabrak mobil kita yang sedang parkir dan memberi kita uang untuk membayar ongkos servis. Kemudian kamu berikan uang saya dan semuanya baik-baik saja, tidak ada salahnya dilakukan, ini bisa terjadi pada siapa pun."

Sara setuju. Rencanaku berhasil setelah aku mengeluarkan biaya sekitar 1/3 dari biaya servis di AS.

Sering kali aku tidak sadar bahwa Taiwan sangat berbeda dengan Amerika. Sara dan aku, setelah aku perhatikan, adalah satu-satunya pasangan "campuran" di sana. Di beberapa kota aku adalah satu-satunya orang kulit "Putih" yang akan ditemukan. Tak perlu dikatakan, banyak orang yang penasaran melihat kami pada waktu itu. Pasangan Asia-Amerika tidak asing lagi di New York City dan tempat-tempat lain di Amerika, tapi tidak di Taiwan.

Satu-satunya tempat dimana aku pernah terpisahkan dari Sara di Taiwan adalah berada di tempat peristirahatan. Di tempat lain kami bersama-sama dan tangan kami tidak pernah terpisah satu sama lain.

Dalam perjalanan kami menuju ke bandara (yeah..., sekarang aku balik ke New York), kami menepi di sebuah tempat peristirahatan di mana kami bisa menggunakan toilet. Kami berjalan ke gedung terbuka berbentuk huruf "T", di mana Anda bisa masuk ke kiri menuju sebuah kamar kecil dan langsung ke toilet. Ini adalah konstruksi toilet sangat khas, seperti apa yang Anda lihat di bandara.

Sara terus ke kiri dan menghilang di tikungan lorong dan aku berbelok ke kanan. Di dalam tampaknya tidak ada orang jadi aku berhenti sambil kebingungan. Tidak ada orang, tidak ada tempat kencing kecuali kedai.

Jika Aku berpikir dengan jelas, bendera merah besar tanda peringatan hati-hati harus berdiri di atas kepalaku. Semua kedai ditutup, kecuali beberapa kedai di belakang, di mana pintu-pintu tidak tertutup untuk buang ari kecil. Aku menendang salah satu dari mereka sampai terbuka dan menatapnya.

Kedai itu tidak digunakan oleh seseorang, juga bukan untuk toilet. Setidaknya bukan toilet seperti yang aku harapkan akan aku lihat. Lantainya sangat kotor dikelilingi oleh cincin porselen sederhana. Benar-benar menjijikkan. Apa ini, kakus? Aku tidak mau menggunakan toilet itu, bisa-bisa aku mimpi buruk memakainya. Aku sempat berpikir untuk mencari tempat yang lain untuk kencing di sini dan kemudian kabur.

Sebaliknya aku hanya berbalik dan mulai menguntit kembali ketika beberapa wanita masuk ke ruangan - sekitar 5 atau 6 dari mereka. Ini adalah sebuah tamparan di wajah saya - aku di kamar yang salah!

Aku menatap mereka dengan kaget, mereka memandangku dengan rasa ingin tahu,

dan aku berkata, "Ups!" lalu bergegas keluar.

Mereka tidak menjerit atau berteriak atau apa pun seperti yang Anda lihat di film. Bahkan, mereka terkikik padaku, mengatakan beberapa hal dalam bahasa Taiwan (Aku membayangkan mungkin artinya "Pria Amerika konyol"), dan langsung pergi meninggalkan mereka sambil menahan pipis yang sedang mendesak.

Ketika aku kembali ke luar, aku menemukan sebuah pintu masuk berbentuk T untuk pria. Dengan cepat aku ke sana untuk pipis dan kemudian bersembunyi di balik pohon sampai Sara kembali. Aku bergegas kembali ke mobil untuk menjelaskan apa yang terjadi dan aku sangat malu. Dia tersenyum padaku dan memberiku ciuman. Oh... Tidak!

Ketika Sara menurunkan aku di bandara, kami sedih. Aku tahu dia mencoba untuk tidak menangis saat seorang asing mengambil gambar terakhir kami bersama sebelum aku naik pesawat.

Kami berciuman, berpelukan, mengucapkan selamat tinggal, dan sayangku Sara melihat aku berjalan menyusuri lorong menuju pesawat. Ini adalah penerbangan pulang yang panjang.

Aku terus berpikir apakah aku baru saja bertemu dengan calon istriku? Ini adalah pertanyaan yang berulang-ulang aku tanyakan pada diriku selama berbulan-bulan, dan hatiku akan terus berkata, "ya, ya" tapi otakku akan berkata, "bagaimana, bagaimana?" Dia tinggal di Taiwan, aku tidak bisa pindah ke Taiwan tanpa melepaskan pekerjaanku sekarang. Apa yang akan aku lakukan? "Satu langkah dari sekarang," kataku dalam hati. "Ambil satu langkah dari sekarang, yang lain akan bekerja dengan sendirinya."

Ketika aku pulang, kami berhubungan melalui internet lagi, dan hubungan kami lebih kuat dari sebelumnya. Dari semua hal yang kami bicarakan di internet adalah bagaimana kami bisa bertemu lagi. Hari itu akan datang pada bulan Februari 1999.

Bersambung... ke Part 3

1 Comments:

Petualangan dan Perpisahan Christ dan Sara Setelah Pertemuan Pertama

@ Saturday, December 17, 2011

Labels: ,
Face Face said...

berantakan lagi.

February 15, 2012 at 8:39 PM
Here's A face Box To Share Your Thoughts